HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA (1): Perjalanan Gerakan Lingkungan dan Peran Gereja Katolik


Pada Kamis, 5 Juni, kita kembali merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Dan setiap kali kita merayakan hari ini, kita dipanggil kembali untuk beraksi dan terus berisik menggemakan panggilan pertobatan ekologis dan kebudayaan bagi seluruh kemanusiaan. Kita harus berisik, teman-teman, karena telah lama bumi kehilangan suaranya, dan manusia kehilangan kepekaannya mendengarkan bahasa-bahasa alam yang disampaikan seluruh ciptaan kepadanya.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia muncul dari Konferensi Stockholm tentang Lingkungan Hidup Manusia (United Nations Conference on the Human Environment) yang diselenggarakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1972 di Stockholm, Swedia. Konferensi ini adalah pertemuan besar pertama di tingkat PBB yang khusus membahas masalah lingkungan hidup. Deklarasi Stockholm dihasilkan, dengan pesan utamanya mengakui keterkaitan antara manusia dan lingkungannya, serta pentingnya perlindungan lingkungan untuk kesejahteraan manusia.

Pada 15 Desember 1972, Majelis Umum PBB resmi menetapkan 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yakni tanggal pembukaan Konferensi Stockholm. Peringatan ini pun tumbuh menjadi acara global yang dirayakan oleh jutaan orang di lebih dari 150 negara.

 

Gerakan Lingkungan Dunia Pra-Stockholm: Benih-Benih Kesadaran

Meski kesadaran lingkungan modern sering dikaitkan dengan era pasca-Perang Dunia II, benih-benih gerakan lingkungan telah tumbuh jauh sebelumnya. Pada abad ke-19, Revolusi Industri memicu eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran dan polusi yang kentara. Di saat itulah muncul suara-suara yang menyerukan perlindungan alam. Tokoh-tokoh seperti Henry David Thoreau di Amerika Serikat, dengan bukunya Walden (1854), mulai merenungkan hubungan manusia dengan alam dan nilai intrinsik keindahan alam. Gerakan konservasi yang lebih terorganisir terbentuk pada akhir abad ke-19, dipelopori oleh figur John Muir yang mengadvokasi perlindungan lahan liar dan pembentukan taman nasional.

Pasca-Perang Dunia II, dengan pesatnya perkembangan industri kimia dan nuklir, kekhawatiran baru yang lebih sistemik pun muncul. Publikasi Rachel Carson berjudul Silent Spring (1962) adalah titik balik krusial. Buku ini secara dramatis mengungkap bahaya pestisida sintetis, khususnya DDT, pada satwa liar dan kesehatan manusia. Buku ini menunjukkan bagaimana tindakan manusia memiliki konsekuensi ekologis yang jauh dan tak terlihat. Silent Spring membangkitkan kesadaran publik yang masif,

Di periode yang sama, akhir 1960-an dan awal 1970-an, muncul pula pemikiran-pemikiran kritis terhadap model pertumbuhan ekonomi tanpa batas. Club of Rome, sebuah think tank global yang didirikan pada tahun 1968, memainkan peran penting. Pada tahun 1972, mereka menerbitkan laporan revolusioner berjudul "The Limits to Growth". Laporan ini, yang menggunakan model komputer untuk mensimulasikan interaksi antara pertumbuhan populasi, industrialisasi, polusi, produksi pangan, dan penipisan sumber daya, menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan populasi yang terus-menerus di Bumi yang terbatas akan mencapai batasnya dan berujung pada keruntuhan ekosistem dan sosial jika tidak ada perubahan signifikan. Laporan ini memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi kekhawatiran lingkungan global dan memicu perdebatan luas tentang keberlanjutan.

Selain itu, pemikir seperti E.F. Schumacher dengan bukunya Small Is Beautiful: Economics as if People Mattered (1973), juga memberikan kritik tajam terhadap ekonomi arus utama yang berorientasi pada pertumbuhan tanpa batas dan gigantisme. Schumacher mengadvokasi ekonomi yang lebih berpusat pada manusia, adil, berkelanjutan, dan berskala kecil, yang menghargai lingkungan dan kearifan lokal. Karyanya menginspirasi gerakan-gerakan akar rumput dan mempopulerkan gagasan "kecil itu indah" dalam konteks keberlanjutan. Pemikiran-pemikiran ini, bersama dengan aktivisme yang berkembang, menciptakan momentum kuat menuju konferensi lingkungan global pertama.

 

Konferensi Stockholm 1972: Tonggak Sejarah Konservasi Lingkungan

Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia yang diselenggarakan pada 5-16 Juni 1972 di Stockholm, Swedia, adalah peristiwa monumental yang mengubah lanskap diplomasi dan kesadaran lingkungan global. Ini adalah kali pertama isu lingkungan ditempatkan dalam agenda politik internasional di tingkat tertinggi.

Konferensi ini dihadiri oleh perwakilan 113 negara, serta berbagai organisasi non-pemerintah. Diskusi melibatkan perdebatan sengit antara negara maju, yang lebih peduli pada polusi industri, dan negara berkembang, yang menekankan hak mereka untuk pembangunan ekonomi dan khawatir regulasi lingkungan akan menghambat kemajuan mereka. Tetapi, ada konsensus yang berkembang bahwa isu lingkungan bersifat transnasional dan memerlukan kerja sama global. Konferensi Stockholm menghasilkan beberapa keluaran kunci:

Deklarasi Stockholm: Sebuah dokumen yang terdiri dari 26 prinsip, mengakui hubungan fundamental antara manusia dan lingkungannya, serta hak dasar manusia atas lingkungan yang sehat. Ini juga menekankan tanggung jawab negara untuk memastikan bahwa kegiatan di dalam yurisdiksinya tidak menyebabkan kerusakan lingkungan di negara lain.

Rencana Aksi Lingkungan Hidup (Action Plan for the Human Environment): Merumuskan rekomendasi untuk tindakan yang harus diambil oleh pemerintah dan organisasi internasional dalam bidang lingkungan.

Pembentukan Program Lingkungan PBB (UNEP): Salah satu hasil paling penting adalah pembentukan United Nations Environment Programme (UNEP) sebagai badan utama PBB untuk isu-isu lingkungan, dengan markas besar di Nairobi, Kenya. UNEP bertugas mempromosikan kerja sama internasional dalam perlindungan lingkungan.

Konferensi Stockholm menjadi tonggak sejarah, untuk pertama kalinya lingkungan hidup diakui sebagai isu global yang memerlukan respons bersama. Isu lingkungan diangkat dari ranah akademis dan aktivisme lokal ke panggung politik dunia. Konferensi ini meletakkan dasar bagi hukum lingkungan internasional, mempromosikan konsep pembangunan berkelanjutan (meskipun saat itu istilah ini belum diformalkan), dan memicu pembentukan kementerian lingkungan hidup di banyak negara. Stockholm adalah momen ketika "lingkungan" resmi masuk ke dalam kamus politik global.

 

Gereja Katolik dalam Konservasi Lingkungan Hidup Global

Meskipun Ensiklik Laudato Si' (2015) menjadi dokumen yang paling komprehensif dan dikenal, keprihatinan Gereja pada isu ciptaan bukan hal baru. Benih-benih ajaran ekologis Gereja ditemukan dalam berbagai dokumen dan inisiatif:

Akar Teologis Awal: Sejak awal, teologi Kristen menekankan bahwa ciptaan adalah karunia Allah dan manusia diberikan mandat untuk "mengusahakan dan memelihara" (Kejadian 2:15). Para Bapa Gereja dan teolog abad pertengahan seringkali merenungkan keindahan alam sebagai cerminan kemuliaan ilahi. Santo Fransiskus Assisi, santo pelindung ekologi, adalah contoh teladan yang menginspirasi dengan cintanya pada seluruh ciptaan.

Kepausan Awal Abad ke-20: Meskipun belum secara eksplisit membahas "lingkungan hidup" dalam pengertian modern, beberapa Paus awal abad ke-20 mulai menyinggung hubungan antara keadilan sosial dan penggunaan sumber daya. Ensiklik Rerum Novarum (Leo XIII, 1891) tentang kondisi buruh, meskipun fokus pada isu sosial, secara implisit menyentuh distribusi sumber daya dan keadilan.

Pra-Laudato Si' (Abad ke-20 Akhir hingga Awal Abad ke-21):  

Paus Paulus VI: Dalam pidatonya kepada FAO pada tahun 1970, Paus Paulus VI berbicara tentang masalah ekologi sebagai "akibat tragis" dari aktivitas manusia yang tak terkendali. Dalam Ensiklik Octogesima Adveniens (1971), ia menyebutkan "perlindungan lingkungan hidup" sebagai isu baru yang muncul.

Paus Yohanes Paulus II: Beliau secara eksplisit mulai mengaitkan krisis ekologis dengan krisis moral. Dalam Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis (1987), ia berbicara tentang "ekologi manusia" dan perlunya menghormati tatanan alam. Pada Hari Perdamaian Sedunia 1990, ia mendedikasikan pesannya untuk "Perdamaian dengan Tuhan Sang Pencipta, Perdamaian dengan Seluruh Ciptaan," di mana ia secara langsung membahas kerusakan lingkungan sebagai ancaman bagi perdamaian. Ia juga seringkali menekankan bahwa kita tidak boleh melihat alam hanya sebagai objek yang dapat dimanipulasi.

Paus Benediktus XVI: Dikenal sebagai "Paus Hijau," Benediktus XVI mengangkat isu lingkungan ke tingkat yang lebih tinggi. Ia berulang kali menyerukan "ekologi manusia" dan menekankan bahwa krisis ekologis berakar pada krisis spiritual. Ensiklik Caritas in Veritate (2009) secara khusus membahas pembangunan integral dan perlunya menghormati "tata bahasa alam." Di bawah kepausannya, Vatikan juga mengambil langkah-langkah praktis, seperti memasang panel surya di aula Paulus VI.

Paus Fransiskus telah membawa kepedulian Gereja Katolik pada lingkungan ke tingkat yang belum pernah terjadi, menjadikannya salah satu pilar utama magisteriumnya. Ensiklik Laudato Si' (2015) menjadi kontribusi Paus Fransiskus yang paling monumental dan tonggak sejarah dalam ajaran sosial Gereja.  Lewat ensiklik ini bliau mendorong ekologi integral, pertobatan ekologis, mengkritik paradigma teknokratis dan antroposentris, serta mendoronga ksi di tingkat global. Tidak berhenti di situ, Desember 2020, Platform Aksi Laudato Si' (LSAP) diresmikan. Sebagai kerangka implementasi Laudato Si' melalui rencana aksi 7 tahun. _Oktober 2023, Anjuran Apostolik Laudate Deum di luncurkan jelang COP 28. Paus juga sangat intensif mendorong diplomasi Iklim

Sejarah panjang gerakan lingkungan, dan diperkaya oleh pemikiran kritis dan suara kenabian Gereja Katolik – dari para Bapa Gereja hingga Paus Fransiskus – menjadi bukti bahwa kesadaran ekologis telah menjadi perjuangan semua orang. Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia ! selamat terus menggemakan cinta pada semesta !

 

Fate Chiasso,

Cyprianus Lilik K. P. senandungkopihutan@gmail.com

Disclamer: Tulisan ini diolah dari berbagai sumber dan bantuan AI

Dari Sejarah: Meskipun ditetapkan pada tahun 1972, perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pertama kali diselenggarakan pada tanggal 5 Juni 1973 dengan tema "Only One Earth" (Hanya Satu Bumi).

Popular Posts