HARI LAUT SEDUNIA & HARI SEGITIGA TERUMBU KARANG 2025
Menjaga Keajaiban yang Melindungi Kita
Tradisi iman kita menggunakan laut untuk menggambarkan kedalaman Misteri Allah, pelayaran dan badai Perjalanan iman, dan kelimpahan Rahmat Ilahi tetapi metafora laut dalam warisan iman kita ini akan berakhir, bila kita tidak cukup berjuang untuk mewujudkan cinta kita kepadanya.
Kemarin, 8 Juni, kita merayakan Hari Laut Sedunia, sebuah momen refleksi global tentang peran krusial lautan bagi kehidupan di Bumi. Hari ini, 9 Juni, kita beralih ke Hari Segitiga Terumbu Karang, yang secara khusus menyoroti salah satu pusat keanekaragaman hayati laut paling luar biasa di planet ini. Hari ini juga, Konferensi Kelautan PBB ketiga (UNOC3), dibuka di Nice, Prancis, 9-13 Juni 2025. Bersama dua peringatan dan satu event internasional ini kita didesak untuk makin merenungkan, berani bertindak, dan melakukan memulihkan. Kita diajak untuk melihat lautan dan terumbu karang tak sebatas sebagai sumber daya, tetapi sebagai "rumah bersama" yang sakral. Cara pandang yang menggemakan panggilan pertobatan ekologis seturut ensiklik Laudato Si'.
1. Hari Laut Sedunia: Sejarah dan Arti Pentingnya
Hari Laut Sedunia (World Oceans Day) diusulkan pada KTT Bumi di Rio de Janeiro Brazil, 1992. Pengakuan resminya oleh PBB tercapai pada tahun 2008, sebuah bagi perlunya peningkatan kesadaran global akan peran vital lautan dan tantangan yang dihadapinya. Hari ini berfungsi sebagai platform untuk:
Merayakan Keindahan dan Kekayaan Laut: Mengingatkan kita akan keanekaragaman hayati yang menakjubkan dan ekosistem vital yang menopang kehidupan di bumi.
Meningkatkan Kesadaran: Memberikan pendidikan kepada masyarakat luas tentang dampak aktivitas manusia terhadap lautan dan pentingnya konservasi.
Memicu Aksi: Mendorong individu, komunitas, pemerintah, dan organisasi untuk mengambil langkah konkret menuju pengelolaan laut yang berkelanjutan.
2. Tema 2025: “Keajaiban, Menjaga Apa yang Menjaga Kita”
Tema ini merangkum hubungan timbal balik antara manusia dan lautan. Tema ini mengajak kita untuk tidak hanya mengagumi lautan, tetapi juga memahami bahwa kelangsungan hidup kita terikat pada kesehatannya.
a. Keajaiban Laut: Fondasi Kehidupan di Bumi Lautan adalah jantung biologis dan klimatologis planet kita. Keajaibannya tak terhitung, dan perannya dalam menopang kehidupan sangat fundamental: (a) Penghasil oksigen global : sekitar 50% dari oksigen yang kita hirup dihasilkan oleh fitoplankton di lautan (field et al., 1998). (b) Penyerap karbon dioksida krusial: lautan menyerap sekitar 30% dari karbon dioksida antropogenik yang diemisi ke atmosfer setiap tahun, berfungsi sebagai "penyangga" perubahan iklim (ipcc, 2019). (c) Regulator iklim dan cuaca: arus laut global mendistribusikan panas ke seluruh planet, memengaruhi pola cuaca dan iklim regional. (d) Sumber pangan dan ekonomi: lebih dari 3,3 miliar orang di seluruh dunia bergantung pada ikan sebagai sumber protein utama (fao, 2020).
b. Menjaga Apa yang Menjaga Kita: Bagian kedua dari tema ini adalah seruan yang lugas dan tak terbantahkan. Jika lautan adalah penjaga kehidupan kita, maka kewajiban moral kita adalah menjadi penjaga lautan. Menjaga lautan berarti: (a) mengurangi polusi, (b) memerangi perubahan iklim, (c) menerapkan perikanan berkelanjutan, (d) melindungi dan merestorasi habitat kritis.
3. Mengenal Hari Segitiga Terumbu Karang Sedunia (9 Juni)
Hari Segitiga Terumbu Karang Sedunia dirayakan setiap tanggal 9 Juni, berfokus pada salah satu wilayah laut paling penting di dunia: Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle). Kawasan ini meliputi perairan Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste. Peringatan ini menyoroti kekayaan luar biasa kawasan ini dan urgensi untuk melindunginya.
Segitiga Terumbu Karang (STK) sering disebut sebagai "Amazon Laut" karena keanekaragaman hayatinya yang tak tertandingi. Luasnya mencapai sekitar 5,7 juta km², namun kekayaannya melampaui ukurannya:
Pusat keanekaragaman hayati laut global: STK menampung 76% dari semua spesies karang yang dikenal di dunia (sekitar 600 spesies), 37% dari spesies ikan terumbu karang dunia (lebih dari 3.000 spesies), dan merupakan habitat penting bagi 6 dari 7 spesies penyu laut di dunia (CTI-CFF, 2018).
Sumber pangan dan ekonomi: Kawasan ini menyediakan sumber pangan, mata pencarian, dan perlindungan pesisir bagi lebih dari 120 juta orang yang tinggal di dalamnya. Perikanan di STK menyumbang sekitar US$ 6 miliar per tahun, sementara pariwisata menyumbang US$ 12 miliar (CTI-CFF, 2018).
Perlindungan Pesisir Alami: Terumbu karang dan ekosistem pesisir terkait (mangrove, lamun) di STK melindungi garis pantai dari erosi dan badai, yang semakin penting di tengah ancaman perubahan iklim.
4. Tema Hari Segitiga Terumbu Karang Sedunia 2025: "Satu Segitiga, Keindahan Tak Terhingga"
Tema ini secara apik merangkum esensi STK dan menggarisbawahi perlunya tindakan kolektif:
a. Merayakan keajaiban alam: Tema ini menyoroti keindahan dan kekayaan ekologis Segitiga Terumbu Karang. Konservasi di STK melibatkan perlindungan keajaiban alam seperti terumbu karang yang sehat, hutan mangrove yang kokoh, dan padang lamun yang subur. Data ilmiah mendukung bahwa kawasan ini adalah_pusat evolusi dan penyebaran spesies laut_ (Allen, 2008), menjadikannya "pabrik" keanekaragaman hayati bagi seluruh Indo-Pasifik. Upaya konservasi harus berfokus pada pembentukan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang efektif dan terhubung, serta restorasi ekosistem yang terdegradasi.
b. Menghargai budaya dan tradisi: Kekayaan budaya dan tradisi masyarakat adat dan lokal di sepanjang pesisir STK adalah aset tak ternilai dalam konservasi. Banyak komunitas memiliki praktik pengelolaan sumber daya laut tradisional (misalnya Sasi Laut di Maluku, Pahere di Nusa Tenggara Timur) yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Konservasi yang efektif harus menghormati dan mengintegrasikan pengetahuan tradisional ini, mengakui peran kunci masyarakat lokal sebagai penjaga garis depan.
c. Memotivasi aksi pelestarian: Tema ini adalah seruan untuk partisipasi aktif. Upaya pelestarian di STK memerlukan kolaborasi lintas batas dan lintas sektor. Ini termasuk: (a) menghentikan perikanan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak teratur (IUU fishing) (b) membangun kapasitas lokal (masyarakat pesisir dan pemerintah daerah), (c) mempromosikan pariwisata berkelanjutan, (d) mengurangi polusi laut.
5. Konferensi Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ketiga (UNOC3)
Konferensi Kelautan PBB ketiga (UNOC3), diselenggarakan di Nice, Prancis, 9-13 Juni 2025. Pertemuan ini akan berfokus pada tiga tujuan inti yang sangat relevan dengan tema Hari Laut Sedunia dan Hari Segitiga Terumbu Karang:
Melestarikan Keanekaragaman Hayati Laut: UNOC3 akan mendorong negara-negara untuk meratifikasi dan mengimplementasikan Perjanjian Keanekaragaman Hayati Laut di Luar Yurisdiksi Nasional (BBNJ Agreement), yang disahkan pada 2023. Perjanjian ini bertujuan melindungi keanekaragaman hayati di laut lepas, yang merupakan 60% dari total wilayah laut dunia dan di luar yurisdiksi negara mana pun (UN, 2023). Ini sangat penting untuk menjaga konektivitas ekosistem laut global.
Menghentikan Subsidi Perikanan yang Merusak: Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) telah berupaya bertahun-tahun untuk mengakhiri subsidi yang berkontribusi pada overfishing (misalnya subsidi bahan bakar, atau subsidi yang mendorong pembangunan kapal besar). UNOC3 akan menekankan kembali urgensi menghentikan subsidi ini, yang diperkirakan mencapai US$ 35,4 miliar per tahun secara global dan memperburuk krisis stok ikan (Sumaila et al., 2019).
Memajukan Target Global "30x30": Tujuan ini adalah komitmen untuk melindungi 30% daratan dan 30% lautan dunia melalui kawasan lindung yang dikelola secara efektif pada tahun 2030 (CBD, 2022). UNOC3 akan menjadi platform penting untuk memobilisasi dukungan politik dan sumber daya untuk mencapai target ambisius ini, yang esensial untuk menjaga ketahanan ekosistem laut.
6. Arah Diplomasi Konservasi Kelautan Global
Laut dihantui oleh ancaman polusi, perubahan iklim, dan eksploitasi berlebihan. Masyarakat ilmiah memberi data tak terbantahkan akan degradasi ekosistem vital seperti terumbu karang. Arah diplomasi kelautan global kini sangat jelas, kita tak punya banyak pilihan :
Perlindungan Skala Besar: Bergerak menuju penetapan kawasan lindung laut yang lebih luas dan terhubung, termasuk di laut lepas.
Pengelolaan Berbasis Ekosistem: Mengelola sumber daya laut dengan mempertimbangkan seluruh jaring kehidupan, bukan hanya spesies tunggal.
Keadilan dan Inklusivitas: Melibatkan masyarakat lokal dan tradisional sebagai mitra kunci dalam konservasi, mengakui pengetahuan dan hak-hak mereka.
Penghentian Subsidi Merusak: Mengatasi distorsi ekonomi yang mendorong praktik tidak berkelanjutan.
Solusi Iklim Berbasis Laut: Mengakui dan memperkuat peran laut sebagai solusi vital dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Secara khusus, guna konservasi terumbu karang, upaya strategis harus melibatkan penanganan polusi lokal, mitigasi perubahan iklim global, dan pemberdayaan komunitas lokal sebagai penjaga.
Melatih Telinga Kita
Tradisi iman kita menggunakan laut untuk menggambarkan kedalaman Misteri Allah, pelayaran dan badai Perjalanan iman, dan kelimpahan Rahmat Ilahi, tetapi metafora laut dalam warisan iman kita ini akan berakhir, bila kita tidak cukup berjuang untuk mewujudkan cinta kita kepadanya.
Di Hari Laut dan Hari Segitiga Terumbu Karang ini, kita dipanggil untuk mendengarkan jeritan laut : suara ekosistem yang hancur, suara spesies terancam, dan suara komunitas pesisir yang termarginalkan. Hanya bila kita bersedia melatih telinga kita untuk mendengarkan jeritan laut, dan mencintainya dengan tindakan nyata kita, masa depan laut dan masa depan kehidupan itu ada untuk kita semua. Beranikah engkau mendengarkan ? Beranikah engkau mencintai dengan tindakan ?
Cyprianus Lilik K. P. senandungkopihutan@gmail.com
Disclamer: Tulisan ini diolah dari berbagai sumber dan bantuan AI
Dari Sejarah : Peluncuran Kapal Selam Rudal Pertama (1959), pada 9 Juni 1959, Amerika Serikat meluncurkan USS George Washington. USS George Washington menjadi kapal selam pertama yang dipersenjatai peluru kendali nuklir balistik, sebuah simbol awal perlombaan senjata nuklir era Perang Dingin.

