"Membangun Komunitas Penggerak Paroki Hijau"


Komunitas Penggerak paroki hijau adalah “geng para pejuang”. Mereka sekelompok umat yang aktif memimpin, menginspirasi, dan menggerakkan umat paroki menjadi paroki yang “laudato si’”. Mereka rata-rata berjumlah 20-30 orang. Membentuk Komunitas Penggerak adalah tugas pertama dari tim inti (3-5 rasul perdana), sebelum bergerak memobilisasi seluruh paroki.

Komunitas penggerak adalah katalisator pembangun kesadaran, pemobilisasi sumber daya, dan pendorong aksi kolektif umat beriman. Mereka relawan berkomitmen tinggi, punya keterampilan kepemimpinan, dan memahami secara mendalam isu-isu ekologis yang dihadapi paroki. Mereka tidak bergerak berdasarkan “biasanya kegiatannya ini”, trend kegiatan lingkungan, atau warisan kegiatan lama. Komunitas penggerak berdasarkan atas pembacaannya atas masalah riil yang dihadapi paroki dan tindakan yang benar-benar dibutuhkan untuk mengatasinya.

Komunitas penggerak adalah kristalisasi prinsip-prinsip dasar community organizing yang diadaptasi dalam konteks eklesial. Saul Alinsky (1971), bapak community organizing modern, menyatakan kelompok penggerak yang efektif memiliki tiga karakteristik utama: (1) basis keanggotaan yang jelas, (2) kemampuan mobilisasi sumber daya, dan (3) visi perubahan yang konkret.

Komunitas penggerak adalah aktualisasi dari "umat Allah yang berziarah" (LG 48). Mereka bukan sekadar pelaku perubahan sosial, mereka adalah para rasul baru yang mabil bagian dalam  sakramen pengharapan bagi dunia yang mengalami krisis ekologis.

 

Ciri-Ciri Komunitas Penggerak: Analisis Mendalam

a. Berbasis Partisipasi

Partisipasi dalam komunitas penggerak bukan sebatas keanggotaan formal, melainkan (a) keterlibatan dalam persaudaraan, (b) nilai yang merawat kolegialitas, (c) misi yang diperjuangkan, dan (d) visi yang menjadi harapan.

Partisipasi juga berarti membuka diri secara Horizontal (antar anggota komunitas dan umat), Vertikal (awam dan hierarki), dan Diagonal (keterlibatan lintas iman dan profesional)

b. Kolaboratif

Kita bekerja bersama-sama semua orang yang berkehendak baik. Kolaborasi menjadi  cermin dari hakikat Gereja sebagai communio. Kita bisa mendasarkan pada pola kolaborasi unik “Model trinitarian : Birokrasi Gereja (Bapa): pengjaran, legitimasi, dan struktur; Komunitas Basis (Putra): melaksanakan aksi konkret; Jaringan Profesional (Roh Kudus): memberikan inovasi dan sumber daya.

c. Berorientasi Aksi

Tanpa aksi tak ada perubahan sosial. Paroki hijau hanya sebuah mimpi kosong. Aksi harus didasarkan pada analisis atas situasi kongkrit, aksi harus dilandasi partisipasi semua anggota, aksi harus dihami alasan-alasannya oleh semua yang mau bergerak. Tanpa kesadaran, aksi hanya artifisial dan sesaat. Tanpa kesadaran, aksi tak membawa perubahan pribadi dan komunitas. Aksi dapat direfleksikan dalam

d. Berjejaring: Mistik Relasional dalam Ekologi Integral

Jejaring komunitas penggerak adalah mutlak. Komunitas penggerak memang kunci yang membuat paroki bergerak, tetapi akses ke keterlibatan umat, ke sumber daya, pengetahuan, dan lain-lain terleyak di luar sana dan harus dijangkau dengan keterbukaan berjejaring. Kita bisa mengidentifikasi tiga tingkat jejaring: Mikro (antar pribadi umat, antar lingkungan, Meso dengan pihak di luar paroki seperti keuskupan, pemerintah lokal, dan makro, di tingkat antar daerah, nasional, bahkan global.  Komunitas penggerak uyang memeiliki jejaring kuat memiliki daya tahan, peluang belajar, kemampuan inovasi, dan daya gerak yang jauh lebih lebar.

e. Pendidikan Transformatif: Sekolah Pembebasan Ekologis

Komunitas bertanggung jawb untuk menumbuhkan anggota anggotanya. Tanpa anggota yang bertumbuh, komunitas juga tidak akan bertumbuh. Pendidikan dalam komunitas penggerak harus dipahami sebagai proses pembebasan yang mencakup Kognitif (Pemahaman ilmiah tentang krisis ekologis), Afektif (Pengembangan empati ekologis), *Psikomotorik (Keterampilan praktis), Spiritual (Pendalaman iman ekologis).

 

C. METODE KERJA KOMUNITAS PENGGERAK

Ada banyak metode yang bisa kita gunakan sebagai komunitas penggerak untuk membangun paroki hijau. Paroki hijau bukan hanya kebun paroki atau bank sampah atau ecoenzym. Ia adalah soal membangun budaya dan praksis ekologis di paroki :

a. Pendidikan Kritis

• Metode: See-Judge-Act Ekologis yang dimodifikasi:

1.  SEE/Melihat: Analisis data dan situasi lingkungan paroki (misal: peta sampah, jejak karbon, kemiskinan)

2.  JUDGE/*Menimbang: Refleksi teologis menggunakan Laudato Si' (LS 20-52)

3.  ACT/Bertindak: rencanakan dan kerjakan proyek mikro (misal: bank sampah)

b. Pengorganisasian Basis Umat (Base Building)

o Tujuannya untuk memperkenalkan dan menjangkau sebanyak mungkin umat. Metodenya adalah Door-to-Door Spiritual Listening. Anggota tim mengunjungi keluarga paroki dengan kerangka pertanyaan:

1.  "Apa yang Bapak/Ibu rasakan tentang kondisi lingkungan sekitar?"

2.  "Bagaimana iman Katolik mengajak kita merespons ini?"

3.  "Bersediakah kita bertindak bersama?"

c. Pengembangan Pemimpin Lokal

• Pembentukan pemimpin adalah mutlak bila kita ingin gerakan kita tumbuh. Kita bisa menggunakan  Latihan Kepemimpinan Berjenjang misalnya :

o Tingkat 1: pelibatan dalam kegiatan dan kepanitiaan (membangun partisipasi dan rasa memiliki).

o Tingkat 2: Pelatihan 3 Tingkat 2: Pelatihan 3 hari (keterampilan dasar CO + ekoteologi)

o Tingkat 3: Magang 3 bulan di kegiatan lingkungan di paroki atau lembaga lain

o Tingkat 4: Pendampingan untuk menjadi trainer

o Dst.

d. Aksi Liturgis-Profetik

o Memasukkan isu lingkungan dalam liturgi sudah lama sekali ada di tengah kita. Misalnya dengan misa ekologis dengan elemen doa tobat ekologis, homili berbasis narasi lingkungan lokal, dan selenggarakan persembahan hasil kebun paroki

e. Mobilisasi Siklus Protes

Memperjuangkan pesan tidak cukup dari atas mimbar atau meja seminar. Salah satu strateginya dengan Aksi Simbolis Berjenjang :

Tahap 1: Aksi visibilitas, ”memperlihatkan” (misal: prosesi dengan tanaman)

Tahap 2: Konfrontasi kreatif, membangun ketergugahan, (misal: "die-in" di tempat pembuangan ilegal)

Tahap 3: Negosiasi kebijakan/aturan (advokasi aturan paroki hijau misalnya)

f. Pembingkaian (Framing) Naratif

o Teknik: Storytelling Ekologis untuk membangun kesadaran dan komitmen umat :

o Narasi pribadi tentang dampak krisis lingkungan

o Testimoni transformasi spiritual melalui aksi lingkungan

o Visi bersama tentang paroki hijau masa depan

 

Mistik Komunitas Penggerak

Komunitas penggerak jelas bukan hanya “pembuat kegiatan lingkungan” di paroki. Komunitas penggerak adalah ruang mistik bagi anggota-anggotanya :

1. Ruang Inkarnasi,  tempat iman pribadi  yang menyentuh tanah

2. Sekolah Kenabian ekologis, tempat kita belajar melakukan karya transformasi sosial

3. Laboratorium Utopia untuk ekologi integral bagi pribadi dan Gereja kita.

Komunitas penggerak Paroki Hijau adalah penanam benih harapan. Dibutuhkan kesabaran, kolaborasi, dan banyak cinta untuk dicurahkan.

 

“He aha te mea nui o te ao? He tāngata, he tāngata, he tāngata.” ungkap suku Maori :”Apa hal terpenting di dunia? Manusia yang hidup adil, manusia yang merawat, manusia yang sadar.” Mari berguru pada semesta ! Swaha !

Cyprianus Lilik K. P

disclaimer : tulisan ini disusun dari berbagai sumber dan bantuan AI

Dari Sejarah 13 April 2021 -Suku Waorani (Ekuador) melalui Putusan Pengadilan Provinsi Pastaza (Ekuador) No. 2021-00354 tertanggal 13 April 2021 memenangkan gugatan hukum terhadap perusahaan minyak yang merusak hutan.

13 April 2018 - Penemuan "Plastik Darat" di Samudra Pasifik. Para peneliti menemukan pulau plastik baru seluas 1,6 juta km² (3x luas Prancis) di Pasifik Selatan.

Popular Posts