KISAH DARI LAMPEDUSA


Tahun 2013 menjadi saksi sebuah perjalanan yang menandai babak awal kepemimpinan Paus Fransiskus. Beberapa bulan setelah terpilih,Paus Fransiskus mengunjungi pulau kecil di tengah Laut Mediterania, Lampedusa, sebagai tujuan ziarah pertamanya di luar Roma. Sebagai seorang Paus, pilihan ini jelas bukan kebetulan, melainkan sebuah pernyataan politis tentang prioritas kepemimpinannya: manusia di pinggiran, mereka yang terluka dan terbuang, adalah jantung dari perhatian Gereja.

Lampedusa, sebuah titik terpencil antara benua Afrika dan Eropa, telah lama menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan. Gelombang demi gelombang para migran dan pengungsi, bertaruh nyawa di lautan ganas demi mencari harapan baru di tanah Eropa, dan seringkali berakhir tragis di perairan yang mengelilingi pulau ini. Mayat-mayat tak bernama terdampar di pantai, adalah hal biasa. 


Krisis Pengungsi di Eropa

Kunjungan Paus Fransiskus ini tak dapat dipisahkan dari gelombang krisis pengungsi yang mulai melanda Eropa di awal dekade 2010-an. Lampedusa, pulau terdekat dengan pantai Afrika Utara, menjadi salah satu titik utama kedatangan para pengungsi melintasi Mediterania.

Setelah "Musim Semi Arab"(Arab Spring) tahun 2011, ketidakstabilan politik dan konflik melanda Afrika Utara dan Timur Tengah, seperti Libya dan Suriah. Ini mendorong orang mencari keselamatan di Eropa. Rute Mediterania Tengah yang menghubungkan Afrika Utara (terutama Libya dan Tunisia) dengan Italia (termasuk Lampedusa) dan Malta, menjadi salah satu jalur utama dan paling berbahaya. Ribuan orang melakukan perjalanan dengan perahu kecil yang tak layak, seringkali diorganisir oleh penyelundup, dengan risiko tenggelam yang sangat tinggi. Lampedusa menjadi "pintu gerbang" pertama mencapai Eropa setelah perjalanan yang mengerikan. Pulau kecil ini dengan cepat kewalahan oleh jumlah kedatangan yang terus meningkat.

Konflik Bersenjata dan Kekerasan: Krisis Suriah menjadi pendorong utama, konflik di Irak, Afghanistan, Somalia, dan negara lain di kawasan, memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka.

Ketidakstabilan Politik dan Pelanggaran HAM: Rejim otoriter, pelanggaran HAM, dan ketidakpastian politik di banyak negara Afrika dan Timur Tengah menciptakan lingkungan yang tidak aman dan tanpa harapan bagi banyak warga.

Kemiskinan dan Kekurangan Ekonomi: Kemiskinan ekstrem, kurangnya lapangan kerja, dan prospek ekonomi yang suram juga menjadi faktor pendorong.

Persekusi dan Diskriminasi: Etnis minoritas, kelompok agama tertentu, dan individu dengan pandangan politik yang berbeda juga menjadi sasaran persekusi dan diskriminasi, ini memaksa mereka mencari perlindungan di tempat lain.

Di awal krisis, Uni Eropa menunjukkan respon yang beragam dan tidak terkoordinasi. Beberapa negara, terutama di Eropa Selatan, merasa terbebani kedatangan para migran, sementara negara-negara lain enggan menerima mereka. Kebijakan suaka dan imigrasi yang berbeda-beda antarnegara UE menciptakan kesulitan dan ketegangan  menemukan solusi bersama. Pengamanan perbatasan dan pencegahan kedatangan menjadi prioritas, daripada pada penyediaan jalur yang aman dan legal atau penanganan kebutuhan kemanusiaan para pengungsi.

Laut Mediterania menjadi "kuburan massal" bagi ribuan migran yang tewas. Kecelakaan kapal yang membawa ratusan orang adalah berita sehari-hari. Lampedusa menjadi simbol tragedi ini, bangkai kapal dan jenazah para migran yang terdampar di pantainya menjadi pengingat akan harga yang harus dibayar mereka yang mencari kehidupan baru.

Pulau kecil Lampedusa dengan infrastruktur yang terbatas harus menghadapi kedatangan ribuan migran dan pengungsi. Pusat penerimaan seringkali penuh sesak, dan penduduk setempat serta otoritas kewalahan dalam memberikan bantuan yang memadai. Meskipun ada gelombang solidaritas dari sebagian masyarakat, kedatangan migran juga menimbulkan tantangan sosial dan logistik bagi pulau tersebut.

Dengan memilih Lampedusa sebagai tujuan pertamanya, Paus Fransiskus secara simbolis menempatkan krisis kemanusiaan di jantung agendanya dan menyerukan tindakan yang lebih solider dan bertanggung jawab. Kunjungannya menjadi pengingat yang kuat akan martabat setiap manusia dan kewajiban moral untuk membantu mereka yang membutuhkan perlindungan.


Migrant & Refugee Section

Kunjungan ke Lampedusa ini menjadi langkah awal Gereja untuk terlibat lebih serius pada isu migran dan pengungsi.  Di tahun 2016, Migrant and Refugee Section didirikan sebagai bagian dari Dikasteri untuk Pelayanan Integral Manusia (Dicastery for Promoting Integral Human Development) di Vatikan. Uniknya, pada awal pembentukannya, sektor ini berada "langsung di bawah bimbingan" Paus Fransiskus sendiri. Sebuah tanda betapa tingginya prioritas isu ini bagi kepemimpinannya. Meski kini terintegrasi dalam Dikasteri, perhatian dan arahan langsung dari Paus tetap menjadi ciri khasnya.

Misi utama M&R Section adalah mendukung Gereja di semua tingkatan (lokal, regional, internasional) dalam mendampingi orang-orang di semua tahap migrasi, terutama mereka yang terpaksa bergerak atau melarikan diri. Ini mencakup pengungsi, pencari suaka, pengungsi internal, korban perdagangan manusia, dan migran dengan status tidak beraturan. Pendekatan M&R Section didasarkan pada empat kata kerja yang sering diulang oleh Paus Fransiskus: menyambut, melindungi, mempromosikan, dan mengintegrasikan (welcome, protect, promote, integrate). Kerangka kerja ini menjadi landasan bagi berbagai inisiatif dan panduan pastoral yang dikeluarkan oleh sektor ini.

M&R Section aktif dalam advokasi menyuarakan hak-hak dan kebutuhan para migran dan pengungsi di tingkat internasional, mendorong kebijakan yang lebih adil dan manusiawi. Sektor ini menghasilkan berbagai dokumen, panduan, dan sumber daya untuk membantu Gereja lokal dalam pelayanan pastoral bagi para migran dan pengungsi. Contohnya adalah "Pastoral Orientations on Intercultural Migrant Ministry." M&R Section juga berupaya meningkatkan kesadaran tentang isu-isu migrasi dan pengungsi di kalangan umat Katolik dan masyarakat luas. Ia juga berperan mengkoordinasikan respons Gereja pada berbagai krisis pengungsi. Secara khusus, M&R Section menekankan pentingnya "hak untuk tidak harus beremigrasi," yaitu menciptakan kondisi di negara asal agar orang tidak terpaksa meninggalkan tanah air mereka.


Keterlibatan Vatikan dalam Global Compact untuk Pengungsi (GCR)

Vatikan, melalui M&R Section dan perwakilannya di PBB, juga aktif terlibat dalam proses konsultasi dan negosiasi yang mengarah pada lahirnya Global Compact untuk Pengungsi yang disahkan Majelis Umum PBB pada Desember 2018. Dalam keterlibatannya, Vatikan secara konsisten menekankan beberapa prinsip utama:

o Sentralitas Martabat Manusia: Pengungsi harus dilihat sebagai individu dengan nama, cerita, harapan, dan aspirasi, bukan sekadar angka.

o Solidaritas dan Belas Kasihan Persaudaraan: Tanggung jawab untuk pengungsi adalah tanggung jawab bersama seluruh komunitas internasional, didasari oleh semangat persaudaraan.

o Non-Refoulement: Prinsip untuk tidak mengembalikan pengungsi ke tempat di mana mereka menghadapi ancaman bahaya harus dihormati sepenuhnya.

o Pendekatan Holistik: Solusi untuk situasi pengungsi harus mencakup perlindungan, bantuan, dan solusi jangka panjang yang berkelanjutan.

o Empat Kata Kerja Paus Fransiskus: Vatikan terus mendorong implementasi GCR melalui lensa "menyambut, melindungi, mempromosikan, dan mengintegrasikan."


Vatikan memandang GCR sebagai kerangka kerja penting untuk pembagian tanggung jawab yang lebih adil dan dapat diprediksi dalam menanggapi situasi pengungsi. Meskipun bukan perjanjian yang mengikat secara hukum, GCR dipandang sebagai ekspresi dari kehendak politik dan ambisi komunitas internasional untuk memperkuat kerja sama dan solidaritas dengan pengungsi dan negara tuan rumah.

Dalam homilinya di hadapan para pengungsi dan penduduk Lampedusa, Paus Fransiskus bertanya "Di manakah saudaramu?" Pertanyaan yang diambil dari kisah Kain dan Habel dalam Kitab Kejadian (Kej. 4:9) ini menjadi gugatan mendasar terhadap hati nurani dunia. Bapa Suci mengecam "globalisasi ketidakpedulian" yang membuat kita abai pada penderitaan sesama. Mari mengajukan pertanyaan yang sama kepada diri kita sendiri : ”Di manakah saudaramu, kawan-kawanku ?”


Jabat erat, 

Cyprianus Lilik K. P. senandungkopihutan@gmail.com

Disclamer: Tulisan ini diolah dari berbagai sumber dan bantuan AI

Dari Sejarah 2 Mei dirayakan sebagai Hari Macan Tutul Internasional dan Hari Koala Liar. Hari Macan Tutul Internasional ditetapkan PBB untuk meningkatkan kesadaran tentang macan tutul dan mempromosikan upaya konservasi untuk spesies kucing besar ini yang menghadapi ancaman dari perburuan liar dan hilangnya habitat. Hari Koala Liar berfokus pada perayaan koala liar dan menyoroti pentingnya melindungi habitat alami mereka, yang terancam.

Popular Posts