"Fase Perintisan Paroki Hijau: Revolusi Kecil Dari Sudut Gereja"

 


Ketika lampu-lampu gereja mulai padam satu persatu, seorang perempuan muda,, Maria, duduk termenung di bangku kayu dekat taman paroki. Matanya menatap tumpukan botol plastik dan bungkus makanan yang berserakan - sisa-sisa perayaan ulang tahun salah satu komunitas paroki tadi sore. . Tiba-tiba ia teringat sisa-sisa sampah di rumahnya, tiba-tiba ia teringat pada tumpukan sampah di perempatan dekat rumahnya. "Apa yang kau lakukan untuk saudaramu, bumi ini, Maria ?"

 

PERTOBATAN PRIBADI : Menyalakan api di sisi dalam diri kita

Maria tidak lagi bisa berpaling. INi sebuah kegelisahan lama. Setiap plastik yang menumpuk sisa belanja, setiap tetes air yang terbuang percuma di kamar mandi, setiap pohon yang ditebang, menggelisahkan jiwanya. Setiap krisis ekologi pada dasarnya adalah krisis spiritual - demikian Jürgen Moltmann mencatat di "God in Creation" (1985) : tanda kegagalan manusia modern untuk melihat alam sebagai "sacramentum mundi", sakramen kehadiran Allah.

Dan Maria ingin melihat wajah Allah itu. Yang tersembunyi di segarnya udara dan hijaunya daun-daun. Inilah api yang membakar jiwa Maria,  dan semangatnya menyala-nyala. Ia memulai dengan hal-hal kecil namun kongkrit : menolak semua kemasan plastik, mengumpulkan sampah organik untuk dijadikan kompos, hingga memasukkan dosa ekologis dalam pengakuan dosanya.

Krisis ekologis adalah panggilan untuk pertobatan batin yang mendalam : "Setiap kali aku membuang makanan, aku telah melukai tubuh mistik Kristus yang hadir dalam roti yang terbuang itu" (Bdk. Pierre Teilhard de Chardin tentang Kristus Kosmis).

Instrumen : retret/rekoleksi ekologis, refleksi  dan examen ekospiritual harian, tantangan 30 hari (misalnya, "Tidak membeli air botol plastik), audit sampah pribadi, peregrinasi.

 

KELOMPOK INTI : Benih pertama, guru-guru pertama

Seperti biji sesawi, api semangat Maria mulai menular. Ia merasa tikda cukup ini menjadi gerak pribadi, Lewat perbincangan, lewat glenal-hglenik di sana dan di sini, lima orang pun berkumpul di ruang serba guna yang sempit. Seorang guru Sekolah Minggu, aktivis lingkungan kampus, ibu rumah tangga, tukang kebun paroki, dan mahasiswa teologi. Mereka bukan orang-orang penting, tetapi seperti para murid pertama Yesus, mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: hati yang terbakar.

Pertemuan mereka penuh dengan diskusi, mulai dari pastik pembungkus snack di pertemuan umat,  mikroplastik di janin dalam rahim bayi, hingga ekoteologi Leonardo Boff. Bukankah pertemuan pertama, selalu berbincang tentang apa saja ?

Setiap gerakan sepanjang sejarah dimulai dari kelompok kecil yang berkomitmen. creative minority istilah Margaret Mead. Kelompok inti, berisi 3 - 5 orang. Mereka duduk, belajar, bergulat, berdebat tanpa henti. Bertarung, berpisah dan kembali berusaha saling mengasihi, hingga menjadi satu dalam nafas dan jiwa.

Mereka terdiri dari Visioner Spiritual(”ideolog-teolog” gerakan), ”Pakar”  Teknis: (pakar praksis lingkungan hidup), dan Jago Jaringan di paroki. Mereka bertemu rutin setiap Jumat malam, membahas visi tentang paroki hijau sambil minum kopi dari tumbler masing-masing. Pertemuan-pertemuan ini penuh dengan diskusi seru, kadang diselingi tawa, kadang juga perdebatan sengit. Tapi satu hal yang menyatukan mereka - keyakinan bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata merawat ciptaan.

 

RISET JALANAN, Penelitian Cara Rakyat dengan Mata dan Hati

Dengan mata yang terbuka lebar dan hati yang diletakkan dalam semangat pelayanan, Maria dan teman-temannya memulai langkah kecil penuh makna: sebuah riset jalanan. Sebelum mengetuk pintu Romo Paroki dan berbicara tentang perubahan, mereka menanamkan dalam diri mereka bahwa setiap data adalah pijakan penting untuk membangun aksi.

Mereka menghitung rata-rata sampah setiap komunitas Gereja setempat pada lingkungan. Mereka mencatat pola sampah di gereja selama sebulan penuh, seolah setiap potongan sampah adalah potongan tangisan bumi yang harus didengarkan. Mereka terjun ke tengah umat, mendengarkan cerita, memahami kegelisahan terpendam. Dari aksi ini, mereka tahu, banyak yang sebenarnya peduli, tetapi tak tahu dari mana harus memulai. Maria dan teman-temannya menyadari, perubahan sejati harus berakar dalam cinta dan pengertian. Riset ini bukan sekadar pencarian fakta, melainkan juga cara sederhana untuk memahami.

 

DUKUNGAN HIRARKHI : Mengetuk Pintu, Menggalang Berkat

Ketika akhirnya mereka berdiri di hadapan Romo Paroki dengan presentasi sederhana berisi data, foto, dan tumpukan mimpi-mimpi mereka, Romo yang kadang penuh pertimbangan,  tiba-tiba terdiam panjang. Matanya menatap foto anak-anak Sekolah Minggu di antara tumpukan sampah di belakang Gereja. Tiba-tiba, ia merasa berdosa. Dukungan resmi pun diberikan, tetapi lebih dari itu - terjadi pencerahan rohani dalam diri Romo yang turut mengubah seluruh perspektif pastoral paroki.

Keindahan (pulchrum) adalah jalan menuju kebenaran dan kebaikan, ungkap Hans Urs von Balthasar. Dan anak-anak Allah yang indah itu, kini kotor, rapuh, dan berbau.


SMALL WINS: Merintis kemenangan Kecil

Setelah berkomunikasi dengan Dewan dan berbincang. Maria dan teman-teman tidak menunggu lama untuk membuat perubahan. Mereka tahu bahwa "Small wins generate momentum." Mereka juga tahu, mereka tak perlu menanti sempurna untuk berbuat sesuatu. Maka mulailah mereka merancang rangkaian pencapaian kecil yang berdampak psikologis besar:

Minggu Pertama: Sukses mengadakan Misa ekologis

Bulan Pertama: Terkumpul 100 kg kompos dari sampah organik

Tiga Bulan: Lingkungan Gereja sudah hijau dengan tetumbuhan. Pastoran juga mulai dikelola dengan cara yang ramah lingkungan.

Mereka tahu, kemenangan di gereja induk menjadi pijakan sekaligus teladan penting seluruh umat. Small wins dirayakan dengan ekaristi syukur. "Seperti mukjizat lima roti dua ikan," homili Romo, "yang kecil menjadi berkat ketika dipersembahkan dengan iman" (Yoh 6:1-14).

 

KOMUNITAS PARA PENGGERAK : Komunitas para misionaris ekologis

Dengan dukungan resmi paroki, kelompok kecil ini mulai mengajak lebih banyak orang. Mereka membuat acara "Pertemuan Laudato Si" setelah misa Minggu. Awalnya hanya sepuluh orang yang datang, tapi puji Tuhan mereka selalu keras kepala. Setiap bertemu mereka berbagi : berbagi pengalaman, berbagi refleksi, berbagi aksi.

Dalam enam bulan berikutnya, transformasi mulai terjadi. Kelompok kecil itu berkembang menjadi dua puluh orang, tetapi yang lebih penting adalah kualitas spiritual mereka. Mereka merintis aktivitas-aktivitas di tengah umat untuk terus mengingatkan, memberi kesaksian, sekaligus mewartakan bumi sebagai bagian dari perutusan : seminar, pelatihan, trekking alam, workshop, kebun paroki, pemutaran film ekologi, hingga aksi pungut sampah umat di car free day di pusat kota.

 

Fiat Lux!

Di bawah sinar matahari pagi yang menyentuh daun-daun basah di taman paroki, Maria tersenyum.

”Orang beriman masa depan akan menjadi seorang 'mistikus', seseorang yang telah 'mengalami' sesuatu, atau ia tidak akan ada lagi." Ungkap Karl Rahner dalam "The Spirituality of the Church of the Future", "Theological Investigations" (Vol. 7, 1966).

Gerakan kecil ini, gerakan paroki hijau, telah melampaui sekadar aksi lingkungan. ia telah menjadi sekolah mistisisme baru : laku doa, laku tapa seluruh umat beriman, demi pemulihan kembali kehidupan. Ia menjadi tempat umat belajar mendengar jeritan bumi dan jeritan orang miskin sebagai jeritan Kristus sendiri. Parokinya telah menemukan jalan baru untuk menjadi terang dunia - dengan menjadi penjaga cahaya ilahi yang bersemayam dalam setiap ciptaan. Fiat lux! Jadilah terang!

 

Cyprianus Lilik K. P

disclaimer : tulisan ini disusun dari berbagai sumber dan bantuan AI

Dari Sejarah 12 April 1961 – Peringatan Hari Penerbangan Antariksa, diambil penerbangan keluar angkasa manusia oleh kosmonot Sovyet, Yuri Gagarin, dengan pesawat Vostok I. Sejak saat itu, manusia tidak hanya menyampah di bumi tetapi juga di angkasa. Diduga lebih dari 300.000+ serpihan sampah luar angkasa akibat ulah manusia, menurut pelacakan NASA.

Popular Posts