Perilaku Agresi pada Remaja
Pada kalangan remaja, aksi yang biasa dikenal
sebagai tawuran pelajar/tawuran massal merupakan hal yang sudah terlalu sering
kita saksikan, bahkan cenderung dianggap biasa. Pelaku-pelaku tindakan aksi ini
bahkan sudah dilakukan oleh siswa-siswa di tingkat SMA. Ini sangatlah
memprihatinkan kita semua.
Hal yang terjadi pada saat tawuran sebenarnya
adalah perilaku agresi dari seorang individu atau kelompok. Agresi itu sendiri
didefinisikan sebagai suatu cara untuk melawan dengan sangat kuat, berkelahi,
melukai, menyerang, membunuh, atau menghukum orang lain. Secara singkatnya,
agresi adalah tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak
milik orang lain.
Pertanyaannya kemudian adalah faktor-faktor apa
saja yang dapat menjadi pemicu perilaku agresi tersebut? Mengapa kasus-kasus
sepele dalam kehidupan sosial masyarakat sehari-hari dapat tiba-tiba berubah
menjadi bencana besar yang berakibat hilangnya nyawa manusia? Untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa
saja penyebab perilaku agresi berikut.
1.
Amarah
Marah
merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktivitas sistem saraf parasimpatik
yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan
adanya kesalahan, yang mungkin nyata-nyata salah atau mungkin juga tidak. Pada
saat marah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan, atau melempar
sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Jika hal-hal tersebut
disalurkan, terjadilah perilaku agresi.
Jadi, tidak dapat dipungkiri bahwa pada
kenyataannya agresi adalah suatu respons terhadap marah. Kekecewaan, sakit
fisik, penghinaan, atau ancaman sering memancing amarah dan akhirnya memancing
agresi. Ejekan, hinaan, dan ancaman merupakan pancingan yang jitu terhadap
amarah yang akan mengarah pada agresi. Anak-anak di kota seringkali saling
mengejek pada saat bermain, begitu juga dengan remaja biasanya mereka mulai
saling mengejek dengan ringan sebagai bahan tertawaan, kemudian yang diejek
ikut membalas ejekan tersebut. Lama kelamaan, ejekan yang dilakukan semakin
panjang dan terus-menerus dengan intensitas ketegangan yang semakin tinggi.
Ejekan ini semakin lama-semakin seru karena
rekan-rekan yang menjadi penonton juga ikut-ikutan memanasi situasi. Pada
akhirnya, jika salah satu tidak dapat menahan amarahnya, ia mulai berupaya
menyerang lawannya. Dia berusaha meraih apa saja untuk melukai lawannya. Dengan
demikian, berarti isyarat tindak kekerasan mulai terjadi. Bahkan pada akhirnya
penonton pun tidak jarang ikut-ikutan terlibat dalam perkelahian.
2.
Faktor Biologis
Ada beberapa faktor
biologis yang memengaruhi perilaku agresi.
a.
Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur
perilaku agresi. Dari penelitian yang dilakukan terhadap binatang, mulai dari
yang sulit sampai yang paling mudah dipancing amarahnya. Faktor keturunan
tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah
marah dibandingkan betinanya.
b.
Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau
menghambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. Pada hewan sederhana,
marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbik (daerah
yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik
antara kenikmatan dan kekejaman. Orang yang berorientasi pada kenikmatan akan
sedikit melakukan agresi. Adapun orang yang tidak pernah mengalami kesenangan,
kegembiraan atau santai cenderung untuk melakukan kekejaman dan penghancuran
(agresi). Keinginan yang kuat untuk menghancurkan disebabkan oleh
ketidakmampuan untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena
kurang rangsangan sewaktu bayi.
c.
Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan)
juga dapat memengaruhi perilaku agresi. Dalam suatu eksperimen, ilmuwan
menyuntikkan hormon testosteron pada tikus dan beberapa hewan lain (testosteron
merupakan hormon androgen utama yang memberikan ciri kelamin jantan), maka tikus-tikus
tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi
hewan tersebut menjadi lembut. Adapun pada wanita yang sedang mengalami masa
haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogen dan progresteron menurun jumlahnya
akibatnya banyak wanita melaporkan bahwa perasaan mereka mudah tersinggung,
gelisah, tegang, dan bermusuhan.
3.
Peran Belajar Model Kekerasan
Tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat ini anak-anak
dan remaja banyak belajar menyaksikan adegan kekerasan melalui televisi dan
juga games atau
pun mainan yang bertema kekerasan. Acara-acara yang menampilan adegan kekerasan
hampir setiap saat dapat ditemui dalam tontonan yang disajikan di televisi mulai
dari film kartun, sinetron, sampai film laga. Selain itu, ada pula acara-acara
TV yang menyajikan acara khusus perkelahian yang sangat populer di kalangan
remaja.
Walaupun pembawa sering berulang-ulang
mengingatkan penonton untuk tidak mencontoh apa yang mereka saksikan namun
diyakini bahwa tontonan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa
penontonnya. Kegiatan menyaksikan perkelahian dan pembunuhan, meskipun sedikit,
pasti akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan untuk meniru model kekerasan
tersebut.
4.
Frustrasi
Frustrasi
terjadi jika seseorang terhalang oleh sesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan,
kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu. Agresi merupakan
salah satu cara berespons terhadap frustrasi. Remaja miskin yang nakal adalah
akibat dari frustrasi yang berhubungan dengan banyaknya waktu menganggur,
keuangan yang pas-pasan, dan adanya kebutuhan yang harus segera terpenuhi
tetapi sulit sekali tercapai. Akibatnya, mereka menjadi mudah marah dan
berperilaku agresi.
Begitu pula tawuran pelajar yang terjadi ada
kemungkinan faktor frustrasi ini memberi sumbangan yang cukup berarti pada
terjadinya peristiwa tersebut. Sebagai contoh, banyaknya anakanak sekolah yang
bosan dengan waktu luang yang sangat banyak dengan cara nongkrong-nongkrong di
pinggir jalan dan ditambah lagi saling ejek mengejek yang bermuara pada
terjadinya perkelahian. Banyak juga perkelahian disulut oleh karena frustrasi
yang diakibatkan hampir setiap saat dipalak (diminta uangnya) oleh anak sekolah
lain padahal sebenarnya uang yang di palak adalah untuk kebutuhan dirinya.
5.
Proses Pendisiplinan yang Keliru
Pendidikan
disiplin yang otoriter dengan penerapan yang keras terutama dilakukan dengan
memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan berbagai pengaruh yang buruk bagi
remaja. Pendidikan disiplin seperti itu akan membuat remaja menjadi seorang
penakut, tidak ramah dengan orang lain, dan membenci orang yang memberi
hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif. Pada akhirnya, ia melampiaskan
kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain.
Hubungan dengan lingkungan sosial bergantung pada
kekuasaan dan ketakutan. Siapa yang lebih berkuasa dapat berbuat sekehendak
hatinya. Adapun yang tidak berkuasa menjadi tunduk. Pola pendisiplinan tersebut
dapat pula menimbulkan pemberontakan, terutama jika larangan-larangan yang
bersanksi hukuman tidak diimbangi dengan cara lain yang dapat memenuhi
kebutuhan yang mendasar. Contohnya, anak dilarang untuk keluar main, tetapi di
dalam rumah tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya karena kesibukan mereka.
Dengan mengetahui faktor penyebab seperti yang
dipaparkan, diharapkan dapat diambil manfaat bagi para orangtua, pendidik, dan
terutama para remaja sendiri dalam berperilaku dan mendidik generasi berikutnya
agar lebih baik sehingga aksiaksi kekerasan baik dalam bentuk agresi verbal maupun
agresi fisik dapat diminimalkan atau bahkan dihilangkan. Mungkin masih banyak
faktor penyebab lainnya yang belum kami bahas disini. Akhirnya, kita setidaknya
berharap faktor-faktor agresi patut diwaspadai.

