ILANG-ILANGAN ENDHOG SIJI
Pepatah Jawa di atas
berarti kehilangan satu telur. Pepatah Jawa ini secara luas ingin menyatakan
tentang kepasrahan atau keputusasaan seseorang (biasanya orang tua) atas
perilaku anaknya yang dianggap sudah di luar batas.
Hal ini dapat
dicontohkan misalnya dengan perilaku seorang anak yang demikian durhaka, jahat,
brengsek, dan tidak bisa dinasihati lagi. Apa pun nasihat dan oleh
siapa pun nasihat itu diberikan seolah memang sudah tidak mempan lagi.
Menghadapi hal yang demikian ini biasanya orang tua akan menyerah atau putus
asa. Harapan tentang hal-hal yang baik pada anaknya bisa pupus seketika. Dalam
kondisi semacam ini orang tua bisa pasrah atau melepaskan harapannya atas
anaknya. Dalam hal seperti ini orang tua bisa merasa ikhlas atau melupakan
anaknya yang sudah bisa ditolong lagi tersebut.
Harapan orang tua akan
ditambatkan pada anak-anaknya yang lain. Ibarat induk mengerami telur dalam
jumlah lebih dari satu, sebuah telur telah direlakannya hilang.***