ANCIK-ANCIK PUCUKING ERI
Pepatah Jawa di atas secara
harfiah berarti bertumpu pada ujung duri. Secara lebih luas pepatah ini ingin
menyatakan keadaan yang begitu gawat, kritis, dan nyaris tidak tertolong lagi.
Bisa dibayangkan bagaimana keadaan seseorang yang bertumpu pada ujung duri.
Tentu saja sakit dan khawatir. Ibaratnya keberlangsungan hidupnya tinggal
menunggu ajal belaka.
Hal seperti itu dapat
juga dicontohkan dengan keadaan seseorang yang menerima sebuah surat
pemberitahuan bahwa sebentar lagi rumahnya akan digusur. Entah dalam waktu
dekat atau jauh, orang tersebut tentu sudah merasakan kekhawatirannya.
Kekhawatiran dan ketiadaan harapan ini ibaratnya ancik-ancik pucuking eri.***

