Resensi Film: “Terminator Genisys”, Nikmati Tanpa Mikir
SATU lagi sekuel film besar ditayangkan di bioskop Indonesia mulai dua hari lalu (24/6). Film Terminator kelima ini mengambil judul Terminator Genisys dengan aktor veteran Arnold Schwarzenegger kembali berperan utama sebagai Terminator Robot T-800.
Sekuel laris James Cameron
Sekuel terkenal Terminator awalnya diciptakan oleh James
Cameron, sang sutradara kondang yang menghasilkan sederetan film besar
antara lain dua film terlaris di dunia: Titanic dan Avatar. Pada 1984 James Cameron bersama produser Gale Anne Hurd yang kemudian menjadi isterinya (1985-1989) menciptakan Terminator. Ini merupakan film pertama yang membuat nama James Cameron terkenal di Hollywood.
Seri kedua Terminator 2: Judgment Day (1991) masih dipegang
oleh James Cameron dan merupakan penghasil pundi terbesar sejauh ini
dalam sekuel Terminator. Kalau film perdana hanya berbujet 6.4 juta
dolar (menghasilkan 78 juta dolar), film kedua ini melonjak biaya
produksinya menjadi 100 juta dolar dan mendatangkan pendapatan sebesar
519 juta dolar. Biaya tinggi tersebut terutama untuk biaya spesial efek
yang menjadi signature dari James Cameron.
Terminator 3: Rise of the Machines (2003) dan Terminator Salvation/Terminator 4 diarahkan oleh sutradara berlainan, demikian juga Terminator 5
teranyar ini. Kedua film terakhir ini juga mendatangkan laba besar.
Film ketiga dengan anggaran 187 juta dolar mendatangkan 433 juta dolar,
film keempat berbiaya 200 juta dolar menghasilkan 371 juta dolar.
Spesial efek yang spektakuler
Film berdurasi 125 menit ini disutradarai Alan Taylor, sutradara yang
lebih dikenal sebagai sutradara serial TV terkenal seperti Lost, The West Wing, Six Feet Under, Sex and the City, The Sopranos, Game of Thrones, dan Mad Men. Karya film layar lebarnya yang paling terkenal adalah Thor: The Dark World (2013).
Kesan kuat yang tertanam ketika menonton film ini niscaya adalah
spesial efek yang mengagumkan. Penontoh dimanjakan dengan suguhan efek
canggih sepanjang film ini. Bagaimana perubahan robot T-1000 yang punya
kemampuan bunglon menyamar menjadi makhluk yang disentuhnya tampak
‘alami’.
Plot timeline yang ruwet
Terus terang nalar saya tidak memahami sepenuhnya plot cerita yang bolak balik menggunakan mesin waktu. Twist
menarik dikenalkan dalam film ini dimana John Connor yang sejak film
pertama diceritakan sebagai hero bisa diinfiltrasi oleh Skynet menjadi human-cyborg hybrid. Lalu masa depan itu menjadi seperti apa? Nah, tentunya ini ruang luas yang disiapkan untuk diceritakan dalam dua film Terminator berikutnya yang akan dikeluarkan pada 19 Mei 2017 dan 29 Juni 2018.
Arnold, tua tapi bukan usang
Selain kecanggihan spesial efeknya, film ini juga berisi humor-humor
kecil yang mengundang senyum. Permainan kata terutama ditujukan pada
karakter aktor gaek Arnold Schwarzenegger yang telah berusia 67 tahun.
Sang Terminator menyebut dirinya sendiri sebagai ‘tua tapi bukan usang’.
Penonton dihibur juga bagaimana sebagai robot dia berusaha menampilkan
wajah ramah seperti manusia dengan senyum konyolnya.
Singkatnya, film ini menghibur, menarik dengan spesial efeknya walau rumit plotnya. Nikmati saja tanpa perlu mencerna logikanya.***
Baca juga “Blackhat”, Berpakaian Kemajuan Teknologi Internet